Turki Kecam Charlie Hebdo soal Karikatur Cabul Erdogan

Posted on

Turki mencela majalah Prancis Charlie Hebdo hidupkan “rasisme kebudayaan” sesudah majalah itu untuk Selasa (27/10) malam waktu ditempat, memajang gambar karikatur Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di halaman muka edisi terbaru.

Charlie Hebdo dipandang menghina Erdogan. Karikatur itu memvisualisasikan Presiden Turki sedang duduk di atas sofa dengan kenakan kaus serta celana dalam memiliki warna putih, sekalian minum sekaleng bir, sambil membuka rok seorang wanita berkerudung sampai menunjukkan bokongnya yang telanjang.

“Ooh, si nabi,” kata watak itu. Sesaat karikatur itu dikasih judul “Erdogan: Dengan Individu, Ia Benar-benar Lucu.”

Menyikapi publisitas itu, salah seorang jubir Erdogan, Fahrettin Altun, lewat ciutannya, “menyumpah usaha sangat menjijikan dari publisitas ini untuk menebarkan rasisme kebudayaan serta kedengkian,” tulisnya lewat Twitter.

Karikatur ini juga langsung makin memanasi konflik di antara Erdogan serta Macron yang meletup semenjak beberapa minggu kemarin

Karikatur Charlie Hebdo ada di tengah-tengah perang kalimat di antara Erdogan, Macron. Serta pimpinan Eropa yang lain masalah sekularisme serta Islam. Susul tindakan intimidasi pemenggalan kepala seorang guru sekolah Prancis, Samuel Paty. Ia dibunuh sesudah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad bikinan Chalie Hebdo waktu mengajarkan di kelas.

“Jadwal anti-Muslim Presiden Prancis Emmanuel Macron berbuah hasil!. Charlie Hebdo barusan mengeluarkan satu seri yang disebutkan kartun dengan beberapa gambar nista yang kabarnya ialah presiden kita,” cuit Altun kembali.

Macron sejauh ini memperjelas tetap berdasar tegar untuk adat serta hukum sekuler Prancis, yang jamin kebebasan bicara yang memungkinkannya publisitas seperti Charlie Hebdo bisa dilaksanakan. Macron menjelaskan agama Islam tengah alami kritis di penjuru dunia serta minta masyarakat muslim Prancis supaya berlaku setia ke konstitusi republik.

Di bawah beberapa prinsip sekularisme Prancis atau laïcité, lembaga keagamaan tidak mempunyai dampak atas peraturan khalayak yang diemban pemerintahan. Idenya untuk jamin kesetaraan semuanya barisan agama serta kepercayaan di mata hukum. Macron mendakwa minoritas muslim Prancis mengalami “separatisme Islam,” di mana masyarakat lebih mematuhi hukum Syariah daripada konstitusi negara.

Kritik Macron check kesehatan psikis

Awalnya Erdogan mengkritik keras Macron dengan menjelaskan jika Presiden Prancis itu perlu mengecek kesehatan moralnya. Pengakuan Macron dipandang Erdogan memojokkan Islam. Erdogan juga mengatakan pemboikotan beberapa produk memiliki label Prancis. Paris selanjutnya panggil duta besarnya di Ankara untuk diminta diskusi tentang keadaan ini.

Awalnya, Charlie Hebdo sudah mengeluarkan ulangi karikatur Nabi Muhammad di awal bulan kemarin. Yang selanjutnya mendapatkan kritik keras dari beberapa negara Muslim di dunia. Sekarang, keadaan sudah berkembang di mana pergerakan anti-Prancis menggema di beberapa negara diantaranya Turki, Pakistan, Yordania, Libya, serta Qatar.

rap/rzn (afp, dpa, ap)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *